Kamis, 26 Juli 2012


Bentrokan antar warga di desa Wamsait, 8 orang tewas

AMBON-Bupati kabupaten Buru, Ramli Ibrahim Umasugi mengakui jumlah korban akibat bentrokan antar warga di lokasi penambangan emas desa Wamsait tepatnya di gunung Botak kabupaten Buru sejak Tanggal 12  hingga 14 Juli 2012 mencapai 8 orang. Korban berasal dari pihak-pihak yang bertikai dan telah diserahkan ke keluarga untuk di makamkan.

Akibat adanya bentrokan tersebut pemerintah Buru siap mengeluarkan kebijakan penutupan kembali lokasi tambang emas gunung Botak untuk menghindari terjadinya bentrokan susulan. Sementara penambang dari luar Maluku telah dilakukan penertiban dan diminta untuk kembali ke daerah asalnya.

Umasugi menambahkan dirinya telah melakukan koordinasi langsung dengan Gubernur Maluku, Kapolda Maluku dan Pangdam XVI Pattimura untuk bersama pemerintah kabupaten Buru melakukan pengamanan warga dan mengantisipasi terjadinya bentrokan susulan.

Selain itu Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu telah diminta untuk memfasilitasi pertemuan antara pemerintah kabupaten Buru dengan Buru Selatan guna membahas perdamaian antara masyarakat adat Buru dengan Ambalau.

Konflik antar warga di gunung Botak dipicu oleh adanya penyerangan dari sekolompok warga terhadap masyarakat adat bersama penambang yang sedang melakukan penambangan emas di gunung Botak. Akibat penyerangan tersebut terjadi konflik antara pihak penyerang dengan warga adat setempat.DMS

Rabu, 04 Juli 2012


Maluku masih tetap urutan III nasional pengguna Narkoba

AMBON-Kepala Badan Narkotika Provinsi Maluku (BNPM), Benny Pattiasina mengakui hingga saat ini provinsi Maluku masih berada pada urutan ke III nasional pengguna Narkoba secara umum dan secara khusus pelajar Maluku tetap berada pada urutan II nasional. Dengan data tersebut menunjukan tingkat pengguna Narkoba di Maluku tidak mengalami penurunan sejak tahun 2009.

Hasil survey terakhir tahun 2009 terhadap anak sekolah atau siswa dan mahasiswa di 33 provinsi di seluruh Indonesia menunjukan kategori pernah pakai Narkoba Maluku menduduki rangking 2 atau 9,9% setelah Nusa Tenggara Timur 11,4%. Sementara untuk satu tahun terakhir yang pernah menggunakan Narkoba, Maluku menduduki rangking 3 atau 6% setelah Sulawesi Utara 6,2% dan Sulawesi Selatan 6,1% dan untuk satu bulan terakhir yang pernah pakai Narkoba Maluku menduduki rangking III setelah Sulawesi Selatan 5,4% dan Sulawesi Utara 5,1%.

Pattiasina menambahkan untuk mengurangi tingkat pengguna Narkoba di provinsi Maluku baik secara umum dan khususnya dikalangan pelajar perlu adanya kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh adat dan orang tua. BNP Maluku akan melakukan kerja sama dengan tokoh-tokoh tersebut guna mengatasi kasus Narkoba di Maluku yang tidak mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir ini. DMS